Kamis, 09 Maret 2023

“Mengapa Kurikulum Perlu berubah”

 

Kurikulum Berubah, Apakah merupakan solusi?



Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pembelajaran, Hamid Muhammad mengatakan, perubahan kurikulum adalah satu hal yang tidak dapat dihindarkan. Masyarakat harus memahami mengapa kurikulum pendidikan sangat dinamis dan kerap berubah.

Dalam dunia pendidikan adanya kurikulum sangatlah penting. Arah dan tujuan pendidikan diatur di dalam kurikulum sehingga dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran guru akan berpatokan pada kurikulum yang dipakai di satuan pendidikannya.

Kurikulum merupakan seperangkat atau suatu sistem rencana dan pengaturan mengenai bahan pembelajaran yang dapat dipedomani dalam aktivitas belajar mengajar. Intinya kurikulum adalah rencana pembelajaran. Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat dan berkaitan langsung dengan fungsi kurikulum ini wajib memahaminya.

Apa pentingnya perubahan Kurikulum?

Untuk menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman. Kurikulum yang baik adalah Kurikulum yang sesuai dengan zamannya, dan terus dikembangakan atau diadaptasi sesuai dengan konteks dan karaktersistik peserta 


Mengapa kurikulum harus berubah ?

Kurikulum ya memang harus berubah. Mengapa ? tentu saja untuk menjawab tantangan zaman. Kurikulum tidak dapat dipergunakan dalam satu waktu terus menerus karena dunia terus berubah. Maka dunia pendidikan sebagai pilar utama dalam membangun dan mendidik generasi harus pula turut berubah.

Kurikulum harus selalu berubah agar sesuai dengan perkembangan zaman, Selain itu kurikulum juga harus mempertimbangkan kebutuhan belajar murid. Sebagai contoh, zaman saya sekolah komputer baru dipelajari pada masa SMA, itupun hanya sebatas menyalakan, memetikan dan mengetik saja. Coba lihat anak sekarang, mereka sudah lahir dengan teknologi di tangannya. Bayi saja sudah pandai memainkan layar gawai. Itulah mengapa kurikulum juga harus berubah, agar kita dapat menyiapkan generasi yang akan datang yang visioner dan mampu memandang ke depan.

Jadi, dapatkah Kurikulum berubah?

Kurikulum oprasional satuan pendidikan harus bersifat dinamis artinya dapat diubah sesuai perubahan dan perkembangan budaya dan zaman, selain mengikuti zaman yang sudah diadaptasi sesuai lingkungan geografis.

Kurikulum bersifat dinamis dan terus dikembangkan atau diadaptasi sesuai konteks dan kebutuhan peserta didik untuk membangun kompetensi sesuai masa kini dan masa yang akan datang.

Bagaimana untuk mewujudkannya?

Seluruh komponen masyarakat yaitu peran orang tua, masyarakat dan sekolah harus menempatkan kebutuhan, pendapat, pengalaman, hasil belajar serta kepentingan peserta didik sebagai pengembangan Kurikulum karena Kurikulum dirancang untuk kebutuhan peserta didik.


                                            ---TERIMA KASIH πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ’–---

Rabu, 11 Januari 2023

Portofolio 14 " Kapita Selekta 2: Model Pembelajaran Pendidikan Vokasi Masa Depan"

 

Reformasi Sistem Pendidikan dan Pelatihan Vokasi (TVET) untuk Pekerjaan Masa Depan!!!

Apa yang harus dilakukan Indonesia untuk mempersiapkan generasi berikutnya untuk pekerjaan di masa depan? Bagaimana sistem pendidikan dan pelatihan teknik dan vokasi Indonesia dapat memenuhi kebutuhan industri dan memastikan siswanya terlibat aktif dan belajar secara efektif?

Mempersiapkan generasi berikutnya untuk lapangan kerja dimasa depan membutuhkan perencanaan yang cerdas. Pendidikan dan pelatihan teknis dan vokasi (TVET) adalah investasi penting untuk meningkatkanketerampilan yang dibutuhkan untuk angkatan kerja yang baru.

Untuk mengembangkan sistem TVET yang dapat memenuhi tuntutan pasar tenaga kerja masa depan, dua persoalan utama perlu dijawab.

Pertama, mengintegrasi sistem TVET nasional untuk meningkatkan keterpaduanantara pemerintah, lembaga pendidikan dan pelatihan, dan industri. Kedua, meningkatkan kualitas dan fleksibilitas pengajaran dan pembelajaran di lembaga TVET dan memastikan bahwa para siswa terlibat aktif dan belajar secara efektif.

PENGEMBANGAN SMK MODEL UNTUK MASA DEPAN...???

Praktik penyelenggaraan SMK di Indonesia saat ini menunjukkan kelemahan-kelemahan sebagai berikut: menyelenggarakan fungsi tunggal, yaitu menyiapkan siswa untuk bekerja, untuk menjadi karyawan, dan kurang menyiapkan untuk menjadi wirausahawan, kurang cepat tanggap terhadap tuntutan-tuntutan pembangunan ekonomi, lemah keselarasannya dengan dunia kerja, dan tidak ada jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Tekanan-tekanan dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap SMK sangat banyak, tetapi beberapa hal berikut harus segera ditanggapi, yaitu rencana pembangunan jangka panjang nasional, cetak biru insan Indonesia cerdas dan kompetitif 2025, master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia, keanekaragaman kebutuhan masyarakat, kemajuan teknologi, dan tuntutan globalisasi. Agar SMK dapat memainkan peran lebih penting dalam pembangunan ekonomi, SMK harus memperluas fungsinya dari fungsi tunggal menjadi SMK Model yang menyelenggarakan fungsi majemuk yang selaras dengan kemajemukan kebutuhan masyarakat. Transisi dari SMK fungsi tunggal menjadi SMK Model (fungsi majemuk) memerlukan restrukturisasi dalam kebijakan, perencanaan, penganggaran, kelembagaan, dan sumber daya.


KONDISI SMK SAAT INI
Secara umum, kondisi SMK saat ini menunjukkan hal-hal sebagai berikut: (1) hanya menyelenggarakan fungsi tunggal yaitu menyiapkan siswanya untuk bekerja pada bidang tertentu sebagai karyawan; (2) lemah dalam menyiapkan siswanya untuk menjadi wirausahawan; (3) lambat daya tanggapnya terhadap dinamika tuntutan pembangunan ekonomi; (4) belum optimal keselarasannya dengan dunia kerja; dan (5) belum ada kepastian jaminan terhadap siswanya untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Lima kondisi SMK tersebut diuraikan seperlunya sebagai berikut:

TUNTUTAN EKSTERNAL 
SMK diharapkan memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk menanggapi tuntutantuntutan eksternal berikut: (1) rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN); (2) cetak biru pembangunan pendidikan nasional; (3) master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia/MP3EI; (4) keanekaragaman kebutuhan masyarakat, khususnya dunia kerja; (5) kemajuan teknologi; dan (6) tuntutan globalisasi.

SMK MODEL: TEROBOSAN BARU
SMK Model adalah SMK yang dikembangkan dari SMK yang menyelenggarakan fungsi tunggal yaitu menyiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja pada bidang tertentu menjadi SMK yang menyelenggarakan multi-fungsi (fungsi majemuk) atas dasar prinsip-prinsip kemanfaatan, keterpaduan program, integrasi sumber daya (manusia, uang, peralatan, bahan, dan sebagainya), resource sharing, dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara maksimal. SMK Model dituntut untuk menjadi sekolah cerdas (kreatif, inovatif, inisiatif, cepat, tepat, dan cekat) dalam mengembangkan program-programnya, dan memiliki keunggulan-keunggulan dibanding dengan SMK-SMK lain dalam inputnya (kurikulum, guru, fasilitas, dan sebagainya), prosesnya (pembelajaran, manajemen, kepemimpinan, dan sebagainya), dan outputnya (mutu lulusan dan mutu produk-produk lain yang dihasilkan). Satu hal mendasar yang harus dilakukan oleh SMK Model adalah membangun kerjasama, kolaborasi, dan sinergi dengan dunia kerja, mulai dari perumusan kompetensi, penyusunan bahan ajar, pelaksanaan kegiatan, hingga sampai evaluasi dan sertifikasi kompetensi.

FUNGSI MAJEMUK SMK MODEL 
Agar pendidikan kejuruan tetap selaras dengan kebutuhan masyarakat, King & Palmer (2010) berpendapat bahwa abad 21 memerlukan reformasi fungsi pendidikan kejuruan. Untuk Indonesia, pendapat mereka bukanlah hal baru karena pada tahun1998 Direktorat Pembinaan SMK telah melakukan reformasi dengan konsepnya yang disebut Skills Toward 2020 yang intinya bahwa SMK harus bebasis demand driven (berbasis kebutuhan dunia kerja dengan segala variasi jenis-jenisnya). Skills Toward 2020 juga sangat selaras dengan saran UNESCO (1984) bahwa pendidikan kejuruan agar menata ulang organisasi dan koordinasinya dengan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan SMK Model agar menekankan keselarasannya dengan kebutuhan masyarakat.


Sumber : https://youtu.be/hxOKiej-gf8


SMK Model dirancang untuk menyelenggarakan fungsi majemuk berdasarkan kemajemukan kebutuhan masyarakat, khususnya dunia kerja. Oleh karena itu, keselarasannya dengan kebutuhan masyarakat merupakan imperatif, baik dalam dimensi kuantitas, kualitas, lokasi, maupun waktu. Transisi menuju SMK Model memerlukan penataan ulang kebijakan, perencanaan, penganggaran, kelembagaan, dan sumber daya yang diperlukan untuk menyelenggarakan SMK Model. 

---TERIMA KASIH---


Minggu, 08 Januari 2023

Portofolio 13 " Kapita Selekta 1 Model Pengajaran Pendidikan Vokasi "

 ---Model Pengajaran Pendidikan Vokasi---

 


1. Pembelajaran Berbasis Interaksi Sosial

2. Pembelajaran Berbasis Pemrosesan Informasi

3. Pembelajarab Berbasis Aktivitas Personal

4. Pembelajaran Berbasis Sistem Perilaku


Model-model yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan sebagai berikut.

  • Model pendidikan di dunia kerja (company model) adalah pendidikan tenaga kerja yang dilakukan secara penuh di perusahaan atau biasa disebut magang;
  • Model pendidikan di sekolah (school based) adalah pendidikan kejuruan yang dilakukan di sekolah. Seluruh sistem pelaksanaan, fasilitas, anggaran, dan pengelolaan merupakan tanggung jawab sekolah khususnya pemerintah. Model ini menempatkan industri hanya sebagai model saja;
  • Cooperatif model atau pendidikan sistem ganda (PSG). Model pendidikan ini dilakukan secara bersama-sama antara sekolah dan dunia kerja. model ini merupakan kombinasi dari school based dan company model yang dipercaya dapat mengatasi kelemahan dari masing-masing model tersebut;
  • Model school based enterprise atau dikenal dengan Unit Produksi (UP). Model ini pada dasarnya adalah mengembangkan dunia usaha di lingkungan sekolah dengan maksud memberikan pengalaman kerja nyata di sekolah sekaligus menambah penghasilan sekolah.

Metode pembelajaran interaksi sosial (social interaction) menekankan pada hubungan personal dan sosial kemasyarakatan diantara peserta didik. Karena pada dasarnya pendidikan adalah untuk mempersiapkan warga negara yang akan mengembangkan tingkah laku demokratis yang terpadu, baik dalam tataran pribadi maupun sosial serta meningkatkan taraf kehidupan yang berbasis demokrasi sosial yang produktif.
Model interaksi sosial adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada terbentuknya hubungan antara peserta diklat yang satu dengan yang lainnya. Model ini beranjak dari paradigma bahwa individu tidak mungkin bisa membebaskan dirinya dari interaksi dengan orang lain. Dalam konteks yang lebih luas, hubungan itu mengarah pada hubungan individu dengan masyarakat. Oleh karena itu, proses pembelajaran harus dapat menjadi wahana untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat berinteraksi secara ekstensif dengan masyarakat, mengembangkan sikap dan perilaku demokratis, serta menumbuhkan produktivitas kegiatan belajar peserta didik.

Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik.


Ciri-ciri sistem model perilaku atau Behavioral Models yaitu...πŸ‘‰

  1. Seluruh model pada kelompok ini didasarkan pada hasil sharing kajian teori-teori secara umum, yang kemudian dipersandingkan/ diintegrasikan dengan teori-teori perilaku (yang dikondisikan).
  2. Beberapa teori yang mendasari: teori-teori belajar secara umum, teori belajar sosial, teori modifikasi perilaku, dan teori-teori terapi perilaku.
  3. Secara umum menekankan pada perubahan perilaku yang terlihat (observable) dibanding perilaku-perilaku secara psikologis atau perilaku yang tidak bisa diamati.
  4. Penerapan prinsip-prinsip stimulus terkontrol dan reinforcement yang menjadi dasar penerapan model pembelajaran interaktif dan mediasi belajar terkondisikan, baik pada pembelajaran secara individu maupun kelompok.
  5. Pengembangan kemampuan belajar melaui fakta-fakta, konsep-konsep dan keterampilan dipandang sama baiknya untuk mereduksi tingkat kecemasan maupun untuk memperoleh kegiatan relaksasi individu.




Model pembelajaran berorientasi aktivitas siswa merupakan proses pembelajaran yang mendorong dan mengembangkan keaktifan siswa dalam pemahaman konsep maupun teori melalui berbagai aktivitas pengalaman pada berbagai lingkungan belajar, yaitu lingkungan di dalam sekolah dan di luar sekolah.

Model pembelajaran perilaku adalah kerangka konseptual atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik yang didasari pada tanggapan atau reaksi peserta didik terhadap rangsangan atau lingkungan.


Sumber Youtube : https://youtu.be/7crya49U4WE

 


Selasa, 03 Januari 2023

Portofolio 12 " Evaluasi Pembelajaran Vokasi "

Strategi Penilaian Hasil Pembelajaran Vokasi 

(Metode, Teknik dan Intrumen Penilaian)


Dokumentasi UKK Oleh DUDIKA di SMK MULU



Mengacu pada Lampiran permendikbud 81A Tahun 2013, strategi penilaian hasil belajar dapat dilakukan dengan metode dan teknik penilaian sebagai berikut.πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

Metode Penilaian
Penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan metode tes dan nontes. Metode tes dipilih bila respons yang dikumpulkan dapat dikategorikan benar atau salah, misalnya untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar pada kompetensi inti kategori pengetahuan dan ketrampilan. Tetapi apabila respons jawaban yang dikumpulkan tidak dapat dikategorikan benar atau salah digunakan metode nontes, misalnya untuk mengukur pencapaian kompetensi
dasar pada kompetensi inti kategori spiritual dan sosial

Teknik dan Instrumen Penilaian
Untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan peserta didik dapat dilakukan dengan berbagai teknik, baik berhubungan dengan proses maupun hasil belajar. Teknik mengumpulkan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik terhadap pencapaian kompetensi. Penilaian dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian hasil belajar, yang meliputi ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Ada tujuh teknik yang dapat digunakan, sebagai berikut: 
  1. Penilaian Unjuk Kerja
  2. Penilaian Sikap
  3. Teknik Penilaian Sikap
  4. Tes Tertulis
  5. Penilaian Proyek
  6. Penilaian Produk
  7. Teknik Penilaian Produk
  8. Penilaian Portofolio
  9. Penilaian Diri
  10. Teknik Penilaian Diri

 

Berikut beberapa penilaian yang telah dibuat pada Modul Ajar
Kompetensi Keahlian Asisten KeperawatanπŸ’•πŸ’•πŸ’•
 



















Penilaian Hasil Belajar Praktik πŸ§
Bloom (1979: 7) membedakan aspek hasil belajar menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotor. Kawasan kognitif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui pengetahuan dan keterampilan intelektual, sedangkan kawasan afektif berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui minat, perhatian, sikap, serta nilai-nilai. Pada kawasan psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kemampuan fisik πŸ’ͺ

 Sumber Youtube : https://youtu.be/PF5gpeHOX-I


Hasil belajar keterampilan dapat diukur dengan cara (a) pengamatan langsung serta
penilaian tingkah laku peserta didik pada waktu proses belajar berlangsung, (b) sesudah
mengikuti pembelajaran praktik dengan jalan memberikan test kepada peserta didik untuk
mengukur pengetahuan keterampilan serta sikapnya, (c) beberapa waktu sesudah
pembelajaran praktik selesai, misalnya penilaian dari kebersihan peserta didik dalam
pekerjaan (kondisi tempat kerja, alat-alat, mesin-mesin setelah digunakan). 
πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Senin, 26 Desember 2022

Portofolio 11 " Blended Learning dalam Pembelajaran Vokasi "

 Blended Learning dalam Pembelajaran Vokasi


 Definisi Pembelajaran Blended

Pada awalnya, pembelajaran blended didefinisikan sebagai kombinasi berbagai media penyampaian dan pada sisi lain didefinisikan pula sebagai kombinasi berbagai metode dalam pembelajaran. Namun, kedua definisi tersebut menurut pandangan Graham (2006: 4) menimbulkan perdebatan antara pengertian media dan metode dalam pembelajaran sehingga definisinya diubah menjadi kombinasi pembelajaran tatap muka dengan pembelajarandimediasi komputer. 

Sementara itu, Masson & Rennie (2006: xvii) mendefinisikan pembelajaran blended sebagai gabungan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran jarak jauh dan E-Learning. Dengan memperhatikan berbagai definisi tersebut, dapat dikemukakan bahwa:

" Pembelajaran blended merupakan kombinasi antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran dimediasi komputer termasuk di dalamnya pembelajaran jarak jauh dan E-Learning. Saat ini, pembelajaran blended banyak digunakan untuk memadukan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online "πŸ‘πŸ‘πŸ‘


Mungkinkan blended learning diterapkan pada semua mata pelajaran pendidikan vokasi (adaptif, normatif, produktif)?πŸ˜•

Mungkin, karena pembelajaran blended learning terdiri dari pembelajaran tatap muka dan pembelajaran e-learning yang dapat diberikan pada mata pelajaran adaptif, normatif, dan produktif.


Apakah blended learning dapat diterapkan untuk mendukung pelajaran praktik kerja industri? Seperti apakah bentuknya?😏

Bisa, Pembelajaran blended learning dapat diterapkan untuk mendukung pelajaran praktik kerja industri, contohnya seperti pada saat kegiatan PKL (Praktik Kerja Lapangan) siswa dapat melakukan konsultasi laporan studi kasus maupun tindakan praktik melalui Wa Group, Google Classroom, Gmail, Zoom Meeting dll.


Buatlah salah satu sintaks pembelajaran pendidikan vokasi berbasis blended learning!!!πŸ‘‡


πŸ’ŸSINTAKS MODEL BLENDED LEARNINGπŸ’Ÿ


Sumber Youtube : https://youtu.be/DTlmLGM3CgA

Rabu, 21 Desember 2022

Portofolio 10 "Konsep Pembelajaran Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Berbasis Kompetensi"

 
" Pembelajaran Kejuruan Berbasis Kompetensi "



( Gambar Dokumentasi Kegiatan Praktik Jurusan Asisten Keperawatan SMK MULU )

 


Berfokus pada penguasaan kompetensi
Tujuan pembelajaran spesifik
Penekanan pembelajaran pada unjuk Kerja / Kinerja
Pembelajaran lebih bersifat individual
Interaksi menggunakan multi metoda : aktif, pemecahan masalah
dan kontekstual

Pengajar lebih berfungsi sebagai fasilitator
Berorientasi pada kebutuhan individu
Umpan balik langsung
Menggunakan modul



MANFAAT

Memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih bertanggungjawab untuk mengembangkan ketrampilan pada kecepatan tertentu

Memungkinkan siswa bersikap lebih bertanggungjawab terhadap kemajuannya

Memotivasi dan membuat siswa aktif memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya

Memungkinkan fasilitator menyesuaikan antara pelatihan dengan persyaratan kinerja

Memungkinkan instruktor menentukan waktu mulai, selesai dan kecepatan program

Menyederhanakan prosedur penilaian

Menjamin kemampuan lulusan di tempat kerja



PROSEDUR PEMBELAJARAN

Menyiapkan kelas

Menjelaskan kompetensi yang akan dicapai

Memberikan pretes dan atau melihat kemampuan yang telah dimiliki siswa (RPL)

Menjelaskan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan

Menjelaskan penilaian kompetensi yang dikembangkan

Menyampaikan sesi pembelajaran materi

Menjelaskan hal-hal kunci

Mendorong partisipasi aktif siswa untuk mengajukan pertanyaan

Menjawab pertanyaan dan memberi komentar

Meringkas hal-hal kunci untuk proses latihan

Mempasilitasi dan membimbing

Menyiapkan bahan ajar dan alat bahan sesuai kebutuhan untuk belajar mandiri

Memantau dan menilai proses latihan

Memberikan kesempatan siswa untuk bereksperimen dan membuat keputusan

Memberikan umpan balik yang konstruktif selama proses latihan

Mengevaluasi dan memberi Umpan Balik

Menilai hasil belajar sesuai dengan sasaran unjuk kerja

Mendiskusikan penilaian hasil belajar dengan siswa

Menginformasikan hasil belajar dan memberi umpan balik

Mendiagnosis hasil belajar siswa



Sumber Youtube : https://youtu.be/-jYscyTkDzI



---TERIMA KASIH πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜Š---

“Mengapa Kurikulum Perlu berubah”

  Kurikulum Berubah, Apakah merupakan solusi? Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pembelajaran, Hamid Muhammad mengatakan, ...