Hakekat Pembelajaran Berbasis Kompetensi atau PBK dan Pembelajaran Saintifik
Belajar adalah proses aktivitas mental melalui interaktif aktif peserta didik dengan
lingkungannya untuk menghasilkan perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai.
Belajar juga merupakan upaya pemberian makna oleh peserta didik kepada pengalamannya
yang mengarah kepada pengembangan struktur kognitifnya dilakukan baik mandiri maupun
sosial.
Pembelajaran dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan
pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar.
Leighbody mengungkapkan bahwa telling is not teaching, listening is not learning,
and watching is not learning, but all three may need to be used to assist learning (Leighbody,
1968:3).Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa "mengajar bukan hanya sekedar
bercerita dan belajar tidak hanya sekedar mendengarkan dan melihat apa yang disampaikan
oleh guru, namun ketiganya diperlukan dalam belajar. Implikasi dari apa yang disampaikan
oleh Leighbody tersebut adalah bahwa mengajar memerlukan suatu strategi agar interaksi
antara guru dengan peserta didiknya terjadi secara optimal"
Strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran untuk menyampaikan materi atau isi pelajaran secara sistematik, sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik secara efektif dan efisien.
Strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pelajaran dan peserta didik, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan perkataan lain, strategi pembelajaran dapat pula disebut sebagai cara yang sistematik dalam mengomunikasikan isi pelajaran kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran adalah keseluruhan pola umum kegiatan guru-peserta didik dalam mewujudkan peristiwa belajar mengajar yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, terbentuk oleh paduan antara urutan kegiatan, metode yang digunakan, penggunaan media dalam pembelajaran, dan pendefinisian peran antara guru dan peserta didik.
Pembelajaran Berbasis Proyek dan Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis proyek merupakan pembelajaran yang didasarkan pada penyelesaian proyek bagi peserta didik. Pembelajaran berbasis proyek merupakan kategori strategi pembelajaran tidak langsung (indirect instruction). Pembelajaran berbasis proyek memberikan tugas yang berasal dari masalah. Peserta didik dituntut melakukan pemecahan masalah secara mandiri dengan permasalahan yang autentik sehingga memungkinkan pengembangan keterampilan dan pengetahuan peserta didik.
Pembelajaran berbasis masalah adalah strategi pembelajaran yang ―menggerakkan peserta didik belajar secara aktif memecahkan masalah yang kompleks dalam situasi realistik.
Pembelajaran berbasis PJBL dan PBL dapat diberikan kepada peserta didik dengan cara kolaborasi antara masing-masing guru mapel, sehingga permasalahan yang diberikan dapat lebih pada penerapan pada permasalahan di dunia nyata.
Pembelajaran Berbasis Kerja
Pendekatan pembelajaran berbasis kerja diturunkan dari premis bahwa setting pembelajaran pada konteks tempat kerja yang riil tidak hanya membuat pembelajaran akademik lebih mudah dicerna para peserta didik tetapi juga meningkatkan engagement in schooling industri/tempat kerja (Wonacott, 2002; Medhat, 2008)
Pembelajaran Teori Kejuruan
Pembelajaran kejuruan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan teori di kelas atau di luar kelas dan praktik di bengkel, laboratorium atau di lapangan. Hal ini sesuai dengan hakikat pendidikan kejuruan yaitu pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki dunia kerja
Pembelajaran Praktik Bengkel
Pembelajaran praktik dirancang dengan pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi (competence based training). Pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi menekankan pada pembekalan penguasaan kompetensi kepada peserta didik, yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, keterampilan, dan tata nilai secara tuntas dan utuh. Kompetensi dapat dikuasai oleh peserta didik dengan baik jika dalam proses pembelajarannya memperhatikan kaidah-kaidah pembelajaran praktik.
Pembelajaran Praktik Laboratorium
Dalam pelaksanaan pembelajaran praktik laboratorium, peserta didik benar-benar dipersiapkan tidak hanya dari segi apa yang akan dipraktikkan, namun juga kesiapan dalam penerapan Budaya Kerja dan K3. Dalam laboratorium peserta didik harus memahami betul dengan SOP yang akan digunakan dan melakukan aplikasi pengujian sesuai dengan intruksi kerja yang diberikan
Penilaian Hasil Belajar PTK
Penilaian hasil belajar peserta didik dapat dinilai secara langsung dengan melihat hasil observasi tindakan praktik peserta didik guna mendapatkan evaluasi keberhasilan dari pembelajaran yang telah diberikan
AIR MINUM "REVERSE OSMOSIS" (RO) SEBAGAI UNIT USAHA SMK MULU DALAM PENERAPAN EDUPREUNERSHIP ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Mengenal Edupreunership
Edupreunership (Kewirausahaan di bidang pendidikan) diberikan dan diterapkan oleh lembaga pendidikan untuk mengajak peserta didik berperan aktif dalam meningkatkan keterampilan dan minat bakatnya. Dalam penerapannya, peserta didik terjun langsung di dunia nyata dan diikut sertakan dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Hal tersebut guna memberikan pengalaman bermakna dan pengembangan karakter bagi peserta didik.
Implementasi pembelajaran dari Edupreunership (Kewirausahaan di bidang pendidikan) salah satunya dengan unit usaha air isi ulang RO sebagai salah satu media pembelajaran edupreunership berbasis proyek pada mata pelajaran pilihan sebagai bentuk peminatan BMW (Bekerja, Melanjutkan, Wirausaha) peserta didik. Peserta didik ikut andil dalam pengelolaan dan pelayanan yang diberikan selama proses produksi berlangsung.
Peluang Pengembangan ROπ
Unit usaha air isi ulang RO SMK Mulu saat ini masih perlu dikembangkan untuk menjangkau masyarakat luas. Usaha air isi ulang tersebut merupakan peluang yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. Kondisi SMK Muhammadiyah saat ini yang menyediakan kurang lebih 10 pedagang di dalam kantin sekolah dan Rumah Sakit Muhammadiyah yang berdampingan menjadi peluang yang terlihat akan kebutuhan ketersediaan air bersih yang dapat mudah diakses.
Langkah-langkah yang perlu diambil:
1) Melakukan pengujian ulang dan rutin terhadap kualitas air yang dihasilkan
2) Melibatkan guru kejuruan dan non kejuruan yang ikut serta dalam pengelolaan untuk menyusun managemen mutu
3) Melibatkan peserta didik sebagai pelaksana dalam pemasaran
4) Melakukan pemasaran yang didukung oleh seluruh warga SMK
5) Melakukan pelayanan pengiriman ke luar dengan pengantaran
Manfaat Pengembangan Edupreunershipπ
"Meningkatkan keterampilan tidak hanya peserta didik yang terlibat, namun guru sebagai fasilitator dapat memberikan pengalaman belajar nyata kepada peserta didik. Pemberian fasilitas air isi ulang RO dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak hanya keluarga SMK Mulu, tetapi juga masyarakat sekitar. Hal tersebut secara tidak langsung berdampak pada adanya income bagi lembaga sekolah"
Model
instruksional dapat sangat bervariasi. Sementara beberapa mungkin fokus pada
bagaimana membuat rencana pelajaran dan yang lain fokus pada penyampaian konten
itu sendiri, model desain instruksional Dick and Carey (juga dikenal sebagai
Model Pendekatan Sistem) adalah salah satunya.
Langkah pertama model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar siswa dapat melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program instruksional. Tujuan instruksional bisa diuraikan mulai dari daftar tujuan, analisis kinerja, penilaian kebutuhan, dari pengalaman praktis dengan kesulitan belajar peserta didik, analisis orang-orang yang melakukan pekerjaan/job analysis, atau dari persyaratan lain sebagai instruksi baru.
Pada Sekolah Pusat Keunggulan yang telah mencoba dengan metode kurikulum baru dengan rincian Capaian Pembelajaran, tujuan pembelajaran dirumuskan dengan lebih sistematis sesuai dengan Elemen dari capaian pembelajarannya. Setiap Elemen dari suatu CP memiliki capaian pembelajaran yang akan terjabarkan dalam banyaknya tujuan-tujuan pembelajaran. Sehingga akan terwujudnya Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
Perlu dibuat Alur Tujuan Pembelajaran yang benar-benar runtut dan sesuai dengan tata urutan kemampuan peserta didik dari yang termudah hingga pada level yang lebih rumit. Dari peserta didik diajak untuk memahami hingga mampu menganalisis.
Setelah menentukan tujuan pembelajaran yang sudah sesuai dengan CP yang akan ditempuh, maka perlu dilakukan analisis untuk menentukan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang relevan dan diperlukan oleh peserta didik.
Dalam pelaksanaannya, model pembelajaran ini setelah menemukan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan, maka penguatan ilmu pengetahuan dan keterampilan dapat dimbangi dengan penerapan P5BK (Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja). Pengetahuan dapat didapatkan pada proses pemahaman, studi kasus, analisis pada suatu tindakan keterampilan. Dalam melakukan tndakan keterampilan, peserta didik perlu disandingkan dengan P5BK yang sesuai.
Stage 3. Entry Behaviors and Learner Characteristics (Perilaku
Masuk dan Karakteristik Peserta Didik)
Di tahap ini, dilakukan analisis siswa, analisis konteks dimana mereka akan belajar dan analisis konteks yang akan mereka gunakan. Pilihan peserta didik, keterampilan, kemampuan, bakat, gaya belajar, motivasi belajar,atau pun minat seorang siswa dan sikap yang sudah dimiliki akan digunakan untuk mendesain strategi instruksional.
Stage 4. Performance Objectives (Tujuan
Kinerja)
Menurut Dick dan Carrey (1985) dalam uno hamzah (2010:27) menyatakan bahwa tujuan performansi terdiri atas: (l) tujuan harus menguraikan apa yang akan dapat dikerjakan, atau diperbuat oleh anak didik; (2)menyebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat, yang hadir pada waktu anak didik berbuat; (3)menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai untuk perbuatan anak didik yang dimaksudkan pada tujuan. Gagne, Briggs, dan Mager menjelaskan bahwa fungsi performansi objektif adalah (a)menyediakan suatu sarana dalam kaitannya dengan pembelajaran untuk mencapai tujuan;
(b) menyediakan suatu sarana berdasarkan suatu kondisi belajar yang sesuai;
(c) memberikan arah dalam mengembangkan pengukuran atau penilaian;
(d) membantu anak didik dalam usaha belajarnya
Stage 5. Criterion-Referenced Test Items (Item
Tes yang Direferensikan Kriteria)
Berdasarkan tujuan performasi yang telah ditulis, langkah ini adalah mengembangkan butir-butir peniaian yang sejajar (tes acuan patokan) untuk mengukur kemampuan siswa seperti yang diperkirakan dari tujuan. Penekanan utama berkaitan diletakkan pada jenis keterampilan yang digambarkan dalam tujuan dan penilaian yang diminta.
Bagian-bagian dari strategi instruksional menekankan komponen untuk mengembangkan belajar siswa termasuk aktivitas pra instruksional, presentasi isi, partisipasi siswa, penilaian proyek atau tugas, pemberian materi, LKPD, dan tindak lanjut.
Pembelajaran dapat dilakukan dengan metode kolaborasi antara masing-masing pengajar dengan mata pelajaran berbeda dengan mengaplikasikan pada kebutuhan di dunia nyata berbasik proyek.
Stage 7. Instructional Materials (Bahan
Ajar)
Dengan istilah bahan isntruksional kita sudah termasuk segala bentuk instruksional seperti modul, panduan guru, overhead transparansi, CD video, multimedia berbasis komputer, dan laman website untuk instuksional jarak jauh/online.
Stage 8. Formative Evaluation (Evaluasi
Formatif)
Ada tiga jenis evaluasi formatif yaitu penilaian satu-satu, penilaian kelompok kecil dan penilaian uji lapangan. Setiap jenis penilaian memberikan informasi yang berbeda bagi perancang untuk digunakan dalam meningkatkan instruksional. Teknik yang sama bisa diterapkan pada instruksional atau penilaian formatif terhadap bahan di kelas.
Menurut Dick dan Carrey (1985), ada tiga fase pokok penilaian formatif yaitu;
1. Fase perorangan atau fase klinis . Pada fase ini perancang bekerja dengan siswa secara perseorangan untuk memperoleh data guna menyempurnakan bahan pembelajaran.
Exp: TUGAS MANDIRI - Latihan Soal
2. Fase kelompok kecil, yaitu sekelompok siswa yang terdiri atas delapan sampai sepuluh orang yang merupakan wakil cerminan populasi sasaran mempelajari bahan secara mandiri, dan kemudian diuji untuk memperoleh data yang diperlukan.
Exp: TUGAS KELOMPOK - Proyek
3.Fase uji lapangan. Boleh diikuti oleh banyak siswa; sering 30 orang sudah mencukupi.
REVISI PEMBELAJARAN --- INSTRUCTIONAL REVITIONS
Melakukan pembenahan terhadap hasil evaluasi terhadap alat, bahan dan materi yang digunakan dalam pembelajaran apakah sudah tepat dan sesuai guna dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih cermat.
Stage 9. Summative Evaluation (Evaluasi
Sumatif)
Hasil-hasil pada tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat yang dibutuhkan. Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan atau diimplementasikan di kelas dengan evaluasi sumatif.
Dengan evaluasi sumatif dapat menentukan nilai dari suatu desain pembelajaran dengan penilaian berdasarkan pada keefektifan dan efisiensi kegiatan belajar mengajar. Apabila semua tujuan sudah dapat tercapai, efektifitas pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam mata pelajaran dalam mata pelajaran tertentu dianggap berhasil dengan baik. Seperti pada penilaian Akhir Sekolah dan Tengah Sekolah.πππ
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting terhadap diri individu serta kebudayaan suatu masyarakat. Pendidikan kejuruan bermaksud menyiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja tingkat menengah tertentu yang sesuai dengan tuntutan yang dipersyaratkan oleh dunia kerja, dan memberikan bekal kepada peserta didik untuk mengembangkan dirinya. Pendidikan kejuruan dimaksudkan untuk menyiapkan tenaga terampil yang dibutuhkan di masyarakat.
Slamet PH (1990) memberi penjelasan tentang arti pentingnya pendidikan kejuruan:
bagi (1) Peserta didik, adalah untuk: persiapan untuk kerja, perbaikan konsep diri, pengembangan kepemimpinan, persiapan untuk belajar lebih lanjut, memberi dasar untuk mencari penghasilan, persiapan karir lebih lanjut, penyesuaian terhadap perubahan.
Bagi (2) Organisasi/institusi, adalah untuk: memberikan pekerja yang terampil, memberikan etos kerja yang tinggi, meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja, menghemat biaya operasional.
Bagi (3) Masyarakat, adalah: meningkatkan penghasilan, mengurangi pengangguran, menciptakan penduduk yang lebih baik.
Bagi (4) Bangsa Indonesia, adalah: diselaraskan dengan kebutuhan pembangunan.
Pendidikan kejuruan harus mengembangkan standar input, yang terdiri dari:
Siswa: harus mempunyai sikap, bakat, kemampuan, dan motivasi untuk berhasil dalam program
Guru: harus mendapatkan latihan yang cukup, pengalaman, pengetahuan dan teknologi serta cara mengajar keterampilan.
Alat: harus sesuai dengan peralatan yang tersedia di lapangan kerja.
Materi Pelajaran: harus lengkap dan memadai.
pendidikan kejuruan dapat mengembangkan standar output yang terdiri dari:
pengetahuan dan keterampilan khusus.
Penampilan di bidangnya
Kemampuan menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat
Prinsip pendidikan kejuruan didefinisikan sebagai generalisasi untuk menyiapkan dan pelayanan arahan untuk program dan konstruksi kurikulum, evaluasi, seleksi praktik instruksional, dan kebijakan pembangunan.
Dengan kata lain: para praktisi pendidikan kejuruan dapat merencanakan/membuat program dan kurikulum pendidikan, evaluasi, dan proses pembelajaran maupun kebijaksanaan lain yang dikembangkan berdasarkan kepentingan dan perkembangan zaman atau IPTEK.
SINKRONISASI KURIKULUM X DUNIA KERJA MERUPAKAN PERAN PENTING!!!
TIDAK HANYA MoU tapi LINK & MATCH 8+i
Saat ini, dalam pelaksanaan untuk mencapai pembelajaran PTK yang sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan teknologi dan kejuruan. Sekolah harus melakukan peenyelaran kurikulum sekolah dengan kebutuhan dunia kerja. Pemenuhan aspek input dan output akan dilaksanakan sesuai dengan gambaran dari hasil penyelarasan yang didapat.
Contohnya :
DALAM PEMENUHAN STANDAR INPUT
Mata Pelajaran :
Kurikulum yang digunakan saat ini tidak lagi mengacu pada KI/KD seperti pada kurikulum sebelumnya namun mengikuti capaian pembelajaran yang akan diitempuh oleh peserta didik agar mampu mereka kuasai. Dengan membedah capaian pembelajaran, lembaga sekolah tidak melakukan sendiri, namun perlu dilakukan kegiatan penyelarasan dengan dunia kerja agar capaian yang akan dicapai benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Guru :
Guru / Pendidik melakukan upskilling kompetensi dengan melakukan magang guru dan pelatihan-pelatihan yang mendukung kompetensinya.
Siswa :
Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengasah keterampilan dan kemampuanya dengan disertai budaya kerja atau nilai afektif sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Budaya kerja dunia kerja harus sudah disesuaikan dan diterapkan di sekolah supaya peserta didik benar-benar merasakan gambaran dunia kerja dari kompetensinya.
(Gambar Pemeriksaan Tekanan Darah Gratis di Kegiatan Pameran, 2022)
Alat
Peralatan sarana dan prasaran dibuat sebisa mungkin dan seminimal mungkin merupakan gambaran simulasi dari dunia kerja. Kebutuhan peralatan yang tepat disesuaikan dengan hasil pengamatan dan sinkronisasi dengan dunia kerja.
Sudah Sesuaikah Pelaksanaan PTK Saat Ini di Indonesia?
Saat ini seperti yang sudah diketahui bahwa pemerintah mengharapkan lembaga SMK mampu mengarahkan peserta didik dalam BMW (Bekerja, Melanjutkan dan Wirausaha). Program BMW ini tidak semata-mata sekolah pecah pada peserta didik saat peserta didik akan lulus, namun benar-benar terkonsep dan terfikirkan sejak peserta didik awal memasuki sekolah (saat PPDB). Tidak hanya peserta didik namun juga orang tua perlu di edukasi bahwa pentingnya untuk memiliki arah tujuan saat memasuki jenjang SMK. Saya rasa, bila program ini benar-benar terkonsep dan terlaksana dengan baik, maka tidak akan ada siswa yang bekerja tidak sesuai dengan yang diajarkan, karena dalam pembelajarannya siswa belajar sesuai dengan arahan minat dan bakatnya. Perlu diingat, bahwa yang diajarkan di sekolah tidak hanya melulu tentang kompetensi jurusannya, namun nilai-nilai kedisplinan, tanggungjawab, berfikir kritis, penyelesaian masalah, dan terampil merupakan bekal mereka dalam bekerja yang diajarkan sekolah terlepas bila pada akhirnya rejeki mereka bekerja tidak sesuai dengan minat dan bakatnya.
Attitude sangatlah penting. Namun, tidak menutup mata juga bahwa anak yang memiliki attitude baik namun tidak mampu sama sekali dalam skill juga menjadi hambatan dalam dunia kerja dan tentunya menjadi bahan evaluasi kepada sekolah. Inilah tugas pendidik untuk terus membudayakan attitude yang baik dalam keterampilan peserta didiknya. Seperti yang sering dapat diterapkan dalam pembelajaran, dalam melatih skill dan teori di kelas maupun bengkel, pendidik harus benar-benar mampu mengasah dan menstimulus peserta didik untuk membangun budaya kerja/attitude yang baik. Maka, hal tersebut akan menjadi pembiasaan peserta didik saat di dunia kerja nanti.
Karena lucunya, terkadang masih ada pendidik yang membuat pendekatan kepada peserta didik sehingga tidak ada batasan antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik masih belum mampu membedakan ranah sekolah, kerja dan pertemanan. Hal inilah yang perlu diperhatikan dengan benar oleh pendidik dalam pembelajaran di sekolah.