Senin, 31 Oktober 2022

Portofolio 4 "Landasan Filosofis PTK"

 

16 Prinsip Pendidikan Kejuruan Menurut Charles Prosser



Dr. Charles Allen Prosser (1871-1952)

         Seorang ahli dan praktisi dalam dunia pendidikan kejuruan, Dr. Charles Allen Prosser (1871-1952) sering dianggap sebagai bapak pendidikan kejuruan, terutama di Amerika. Dia adalah seorang guru Fisika dan Sejarah di New Albany High School dan mendapatkan gelar PhD dari Columbia University

Berikut ini adalah Prinsip-prinsip Pendidikan Kejuruan (Vocational School) menurut Charles Allen Prosser atau yang biasa dikenal juga dengan istilah 16 Dalil Prosser.

  1. Pendidikan kejuruan akan efisien jika lingkungan di mana siswa dilatih merupakan replika lingkungan di mana nanti ia akan bekerja
  2. Pendidikan kejuruan akan efektif hanya dapat diberikan di mana tugas-tugas latihan dilakukan dengan cara, alat, dan mesin yang sama seperti yang diterapkan di tempat kerja
  3. Pendidikan kejuruan akan efektif jika dia melatih seseorang dalam kebiasaan berpikir dan bekerja seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu sendiri
  4. Pendidikan kejuruan akan efektif jika dia dapat memampukan setiap individu memodali minatnya, pengetahuannya, dan keterampilannya pada tingkat yang paling tinggi
  5. Pendidikan kejuruan yang efektif untuk setiap profesi, jabatan, atau pekerjaan hanya dapat diberikan kepada seseorang yang memerlukannya, yang menginginkannya, dan yang dapat untung darinya
  6. Pendidikan kejuruan akan efektif jika pengalaman latihan untuk membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berfikir yang benar diulangkan sehingga pas seperti yang diperlukan dalam pekerjaan nantinya
  7. Pendidikan kejuruan akan efektif jika gurunya telah mempunyai pengalaman yang sukses dalam penerapan keterampilan dan pengetahuan pada operasi dan proses kerja yang akan dilakukan
  8. Pada setiap jabatan ada kemampuan minimum yang harus dipunyai oleh seseorang agar dia tetap dapat bekerja pada jabatan tersebut
  9. Pendidikan kejuruan harus memperhatikan permintaan pasar (memperhatikan tanda-tanda pasar kerja)
  10. Proses pembinaan kebiasaan yang efektif pada siswa akan tercapai jika pelatihan diberikan pada pekerjaan yang nyata (pengalaman sarat nilai)
  11. Sumber yang dapat dipercaya untuk mengetahui isi pelatihan pada suatu okupasi tertentu adalah dari pengalaman para ahli pada okupasi tersebut
  12. Setiap okupasi mempunyai ciri-ciri isi yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya
  13. Pendidikan kejuruan akan merupakan layanan sosial yang efisien jika sesuai dengan kebutuhan seseorang yang memang memerlukan dan memang paling efektif jika dilakukan lewat pengajaran kejuruan
  14. Pendidikan kejuruan akan efisien jika metode pengajaran yang digunakan dan hubungan pribadi dengan peserta didik mempertimbangkan sifat-sifat peserta didik tersebut
  15. Administrasi pendidikan kejuruan akan efisien jika dia luwes dan mengalir daripada kaku dan terstandar
  16. Pendidikan kejuruan memerlukan biaya tertentu dan jika tidak terpenuhi maka pendidikan kejuruan tidak boleh dipaksakan beroperasi


TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Gagne dan Berliner adalah dua orang yang membuat teori belajar behavioristik. Teori ini berisi tentang perubahan tingkah laku yang terjadi karena pengalaman belajar. Dalam perkembangannya, teori ini menjadi aliran psikologi belajar yang memiliki pengaruh terhadap tujuan peningkatan teori belajar dan praktik dalam dunia pendidikan dan pembelajaran. Aliran psikologi belajar juga dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini lebih mengutamakan terbentuknya perilaku yang dihasilkan dari proses belajar.

Belajar itu sendiri merupakan interaksi antara stimulus dan respon. Menurut teori behavioristik, dalam proses belajar mengajar yang terpenting adalah seseorang akan dianggap telah belajar ketika sudah menunjukkan perubahan perilaku. Dari teori ini juga, proses pembelajaran dapat diartikan sebagai stimulus dan respon.

Dengan kata lain, input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Bentuk dari stimulus berupa penyampaian materi, pembentukan karakter, nasihat, dan lain-lain yang diberikan guru kepada muridnya. Sementara, bentuk dari respon berupa reaksi atau tanggapan dari murid atau peserta didik terhadap stimulus yang diberikan oleh guru atau pendidik.


TEORI BELAJAR KOGNITIF

Seorang psikolog asal Swiss yaitu Jean Piaget mengembangkan teori kognitif, sehingga teori belajar kognitif disebut juga dengan teori belajar Piaget. Berkat teori dari Piaget terlahir perkembangan psikologi yang berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan.Teori kognitif berbicara tentang manusia membangun kemampuan kognitifnya dengan motivasi yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap lingkungannya.

Inti dari konsep teori ini adalah bagaimana munculnya dan diperolehnya schemata (skema atau rencana manusia dalam mempersepsikan lingkungannya) dalam tahapan-tahapan perkembangan manusia atau saat seseorang mendapatkan cara baru dalam memaknai informasi secara mental.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menerapkan teori kognitif dalam proses belajar mengajar.

  1. Pembuatan materi pembelajaran harus disusun dengan pola atau logika sederhana dan kompleks.
  2. Siswa bukanlah orang dewasa yang sudah mengerti dan mudah dalam berpikir. Oleh karena itu, guru harus memberikan pengarahan sesuai dengan usia murid atau peserta didik.
  3. Setiap kegiatan pembelajaran harus memiliki makna.
  4. Agar keberhasilan murid tercapai maka guru perlu mengamati perbedaan yang ada pada setiap murid.

TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME

Berdasarkan asalnya, teori konstruktivisme bukan bagian dari teori pendidikan. Sebenarnya teori ini bersumber dari ilmu filsafat terutama filsafat ilmu. Dalam ilmu filsafat ilmu, hal yang dibahas atau dijelaskan dalam teori ini adalah bagaimana proses terbentuknya pengetahuan manusia. Menurut teori konstruktivisme, pembentukan pengetahuan yang terjadi pada manusia berasal dari pengalaman-pengalaman yang telah dilewatinya.

Konstruksi berarti membangun. Jadi teori belajar konstruktivisme adalah suatu usaha yang dilakukan untuk membangun tata hidup yang berbudaya modern. Teori belajar ini berlandaskan pembelajaran kontekstual. Dengan kata lain, manusia membangun pengetahuan sedikit demi sedikit yang hasilnya disebarkan melalui konteks yang terbatas dan dalam waktu yang direncanakan.

Teori ini menekankan seseorang yang belajar memiliki tujuan untuk menemukan bakatnya, menambah pengetahuan atau teknologi, menambahkan pengetahuan yang dimilikinya, dan lain-lain yang dibutuhkan untuk mengembangkan dirinya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menerapkan teori konstruktivisme dalam proses belajar mengajar.

  1. Saat mengajar sebaiknya memberikan kesempatan kepada murid agar dapat mengeluarkan pendapatnya dengan bahasa sendiri.
  2. Murid diberikan waktu atau kesempatan untuk menceritakan pengalamannya agar menjadi murid yang lebih kreatif dan imajinatif.
  3. Lingkungan belajar mengajar harus kondusif agar murid bisa belajar dengan maksimal.
  4. Murid diberi kesempatan untuk membuat gagasan atau ide yang baru




KONEKTIVISME

Konektivisme adalah integrasi prinsip yang diekplorasi melalui teori chaos, network, dan teori kekompleksitas dan organisasi diri. Belajar adalah proses yang terjadi dalam lingkungan samar-samar dari peningkatan elemenelemen inti- tidak seluruhnya dikontrol oleh individu. Belajar (didefinisikan sebagai pengetahuan yang dapat ditindak) dapat terletak di luar diri kita (dalam organisasi atau suatu database), terfokus pada hubungan serangkaian informasi yang khusus, dan hubungan tersebut memungkinkan kita belajar lebih banyak dan lebih penting dari pada keadaan yang kita tahu sekarang.

Konektivisme diarahkan oleh pemahaman bahwa keputusan didasarkan pada perubahan yang cepat. Informasi baru diperoleh secara kontinu, yang penting adalah kemampuan untuk menentukan antara informasi yang penting dan tidak penting. Yang juga penting adalah kemampuan mengetahui kapan informasi berganti (baru). Prinsip-prinsip konektivisme sebagaimana yang diungkapkan Siemens (2005) adalah: 
  1. Belajar dan pengetahuan terletak pada keberagaman opini. 
  2. Belajar adalah suatu proses menghubungkan (connecting)sumber-sumber informasi tertentu. 
  3. Belajar mungkin saja terletak bukan pada alat-alat manusia. 
  4. Kapasitas untuk mengetahui lebih banyak merupakan hal yang lebih penting dari pada apa yang diketahui sekarang. 
  5. Memelihara dan menjaga hubungan-hubungan (connections)diperlukan untuk memfasilitasi belajar berkelanjutan. 
  6. Kemampuan untuk melihat hubungan antara bidang-bidang, ide-ide, dan konsep merupakan inti keterampilan. 
  7. Saat ini (pengetahuan yang akurat dan up-to-date) adalah maksud dari semua aktivitas belajar konektivistik. 
  8. Penentu adalah proses belajar itu sendiri. Pemilihan atas apa yang dipelajari dan makna dari informasi yang masuk nampak melalui realita yang ada. 

Pandangan konektivisme memiliki implikasi dalam semua aspek kehidupan. Berikut adalah aspek yang juga terpengaruh selain pengaruhnya dalam belajar, menurut Siemens (2005) yaitu: 
  1. Manajemen dan kepemimpinan. Pengelolaan sumber-sumber untuk mencapai outcome yang diharapkan merupakan suatu tantangan. Menyadari bahwa pengetahuan yang lengkap tidak ada dalam pemikiran seseorang saja maka diperlukan adanya pendekatan yang berbeda untuk menciptakan pandangan terhadap segala situasi. Keberagaman tim dari berbagai sudut pandang merupakan struktur penting untuk memperoleh ideide yang lengkap. Inovasi juga merupakan suatu tantangan. Kemampuan suatu organisasi untuk mendukung, memelihara, dan mensintesis pengaruh-pengauh berbagai pandangan tentang informasi adalah penting untuk bertahannya pengetahuan. Cepatnya suatu ide diimplementasikan adalah juga meningkatkan pandangan sistem belajar. 
  2. Media, berita , informasi. 
  3. Pengelolaan pengetahuan seseorang dalam kaitannya dengan pengelolaan pengetahuan organisasional. 
  4. Desain lingkungan belajar


Sumber Youtoube: https://youtu.be/ox3ZMhnaTU0

Rabu, 19 Oktober 2022

Portofolio 3 "Implementasi Transferable Skill di LN dengan Indonesia"

Implementasi Transferable Skill di LN dengan Indonesia

     Transferable skills dapat didefinisikan sebagai keterampilan-keterampilan yang berguna dalam berbagai jenis pekerjaan dan konteks kehidupan (UNESCO, 2012, hal. 14; Bridges, 1993; Bennett, 2002; Richard, 2012). Transferable skills telah diintegrasikan menjadi salah satu unsur penting dalam kurikulum pendidikan vokasidi Negara Inggris, baik dalam pendidikan formal maupun non-formal.


1. Inggris: Functional Skills

    Functional skills yang dimaksud meliputi:

  1. Penerapan angka (Maths)
  2. Komunikasi (English)
  3. Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT)
  4. Mengembangkan pembelajaran dan performa secara mandiri (improving own learning and performance atau IOLP)
  5. Pemecahan masalah
  6. Bekerja sama

2. Skotlandia: Core skills

    Core skills ini meliputi(SQA, 2013)

q  Keterampilan memecahkan masalah meliputi berpikir kritis dan kreatif, menganalisis situasi dan mengambil tindakan, merencanakan dan mengatur hal-hal yang dibutuhkan, merefleksikan pencapaian dan mengambil kesimpulan

q  Keterampilan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan

q  Keterampilan numerasi meliputi mengolah, menginterpretasi dan mengomunikasikan informasi

q  Keterampilan TIK, yaitu keterampilan mendasar untuk mencari dan menganalisis informasi

q  Keterampilan bekerjasama dengan orang lain merupakan keterampilan interpersonal yang dapat membantu peserta didik berelasi dengan orang lain baik dalam pendidikan dan pekerjaan, untuk mencapai tujuan bersama.


3. Wales: Essential Skills Wales (ESW)

Istilah ini diperbaruhi pemerintah Wales pada 2015. Essential Skills Wales (ESW) meliputi :

  1. keterampilan berkomunikasi (Essential Communication Skills),
  2. keterampilan penerapan angka (Essential Application of Number Skills),
  3. keterampilan literasi digital (Essential Digital Literacy Skills),
  4. keterampilan bekerja (Essential Employability Skills atau EES)

4. Irlandia Utara: Essential skills

Essential skills diperkenalkan oleh Department for Employment and Learning (DEL) pada bulan April 2002 dalam Essential Skills for Living Strategy (NI Statistics & Research agency , 2016).

Keterampilan yang dikategorikan essential skill meliputi :

q  Literasi

q  Numerasi

q  TIK

Di Irlandia Utara pencapaian kualifikasi essential skills tidak hanya dinilai berdasarkan penguasaan keterampilan tertentu tetapi juga menggunakan standar usia sebagai berikut:

  1. Entry level 1 (usia 5-7 tahun)
  2. Entry level 2 (usia 7-9 tahun)
  3. Entry level 3 (usia 9-11 tahun)
  4. Level 1 (GCSE grades D-G)
  5. Level 2 (GCSE grades A-C)

STRATEGI pengembangan transferable skills di Indonesia

v  Dalam menerapkan trasferable skills di Indonesia diperlukan partisipasi dari pemerintah, pemangku kepentingan, pemberi kerja dan pekerja untuk mengidentifikasi transferable skills yang perlu untuk dikembangkan dalam lingkup konsep, politik dan praktik (UNESCO, 2014). Pemerintah dan perusahaan berkolaborasi mendanai dan mengelola pendidikan vokasi agar dapat meningkatkan relevansi konten pendidikan dengan pekerjaan di masa yang akan datang.


v  Perkembangan trasverable skills dapat membantu pekerja dengan keterampilan dan dapat memudahkan pekerja untuk bekerja secara efektif dalam berbagai situasi. Transferable skills, juga dapat membantu mobilitas jenjang karir pekerja baik di dalam maupun di luar perusahaan. Maka dari itu, pemberi kerja maupun institusi pendidikan harus mengutamakan pengembangan transferable skills.

v Pengintegrasian transferable skills dalam kurikulum Pendidikan vokasi berkaitan erat dengan kualitas Pendidikan di suatu negara , khususnya kualitas guru. Guru memiliki peran penting dalam menerapkan kurikulum program magang (UNESCO, 2012).  Program revitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia sebagai sarana dalam pengintegrasian transferable skills. 


Bagaimana Transferable Skill Terintegrasi dengan Revitalisasi SMK

Mengutip dari bapak Mendikbud RI Nadiem Anwar Makarim bahwa beliau mencanangkan program revitalisasi yang terkait dengan SDM pada tahun 2020. Revitalisasi ini memang diperlukan dengan upaya agar SDM dari jenjang SMK selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Menciptakan lulusan SMK yang unggul, siap kerja, sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Untuk mencapai SMK yang unggul dan siap kerja maka intregasi dari transferable skills perlu diterapkan. Dengan metode tersebut, pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan, sikap dan pengetahuan tidak hanya sebatas penuntasan dari kurikulum yang harus dicapai. Namun, peserta didik mampu menerapkan keterampilan, sikap dan pengetahuannya untuk menyelesaikan permasalahan nyata di dunia kerja. Keterlibatan peserta didik dalam menyelesaikan masalah dapat dimulai saat peserta didik melakukan kegiatan praktik kerja lapangan. Pembelajaran yang melibatkan dunia kerja memberikan stimulus peserta didik agar mampu memiliki gambaran dunia kerjanya dan masalah yang rentan akan dihadapinya di masa mendatang.

Dengan melakukan Link and Match dengan dunia kerja. Link and match ini tidak hanya sekedar tulisan dalam kertas saja, namun benar-benar diterapkan. Beberapa capaian yang dapat dilakukan dengan adanya Link and Match yaitu penyelarasan kurikulum antara sekolah dengan dunia kerja. Peserta didik dapat melakukan kegiatan magang / on job training di dunia kerja. Guru atau tenaga pendidik dapat melakukan kegiatan magang guru di dunia kerja. Apabila guru dan peserta didik sama-sama mengerti kebutuhan dan permasalahan dunia kerja terkini, maka kedua belah pihak secara tidak langsung akan belajar dan memberikan stimulus dalam berpikirnya. Secara tidak langsung metode transferable skills telah dicoba bahkan dilakukan dengan sedikit-demi sedikit dengan revitalisasi SDM yang dilakukan oleh lembaga sekolah. Tidak hanya peserta didik, namun guru juga diajak untuk berfikir kritis dalam menyelesaikan permasalahan, komunikasi efektif dan saling bergotong royong dalam pekerjaan yang diterima

Langkah-langkah yang sudah atau akan dilaksanakan dari program revitalisasi pendidikan vokasi dalam pengintegrasian transferable skills :
1. Melatih peserta didik dalam keterampilan berkomunikasi
2. Melatih peserta didik bekerja sama dengan orang lain
3. Melatih peserta didik kuat dari segi fisik dan mental
4. Memberi waktu tambahan magang untuk peserta didik di dunia usaha dan industri
5. Membekali peserta didik dengan kemamampuan IT


Video membahas mengenai penjelasan Introduction to Transferable skills

Referensi

ACE. (2015, February). Transferable Skills: Guidance notes. Retrieved September 3, 2017, from         https://acecerts.co.uk/web/wp-content/uploads/2013/06/ACE-Transferable-Skills-Feb-2015-            V4-Starts-up-to- 5th-April-2015.pdf

Department for Education . (2016). Post-16 Skills Plan. London: OGL.

Education and Training Foundation. (2016, December). Annual Review 2015/16. Retrieved April         16, 2017, from http://www.et-foundation.co.uk/wp-content/uploads/2014/03/AR-amended-            smaller-file.pdf

Kemendikbud. (2016). Membangun Pendidikan Menengah Kejuruan Indonesia: Sebuah Peta Jalan     Menuju 2030. Jakarta: Kemendikbud.

Kurnia, D., Setiawan, A., & Dittrich, J. (2014). Integrating Transferable Skills in TVET. Integration of Transferable Skills in TVET Curriculum, Teaching­Learning, and Assessment (pp. 20-26). 
Gadong: SEAMEO VOCTECH Regional Centre. 



Selasa, 11 Oktober 2022

Portofolio 2 "Dinamika PTK di Indonesia"

 

Perlukah Revitalisasi Pendidikan di Indonesia?

Latar belakang revitalisasi SMK ialah perubahan yang terjadi di segala bidang di era globalisasi. Kebutuhan dan tantangan dunia kerja yang semakin kompleks menuntut tenaga kerja (sumber daya manusia) yang mampu berkompetisi dengan bekal kompetensi yang profesional. Pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi bangsa yang berkarakter kuat, terampil, kreatif, inovatif, imajinatif, peka terhadap kearifan lokal dan technoprenership. dari latar belakang inilah pendidikan mempunyai peran penting untuk melahirkan lulusan yang bernilai jual tinggi dan bersaing di dunia industri. dari sini perlu untuk revitalisasi di dunia pendidikan yang bermaksud untuk memaksimalkan semua unsur pendidikan dan lembaga yang terkait dalam proses pendidikan di SMK.

Menilik Fenomena Bonus Demografi dan Angka Pengangguran SMK

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sampai Februari 2019 pengangguran terbuka paling banyak berasal dari lulusan SMK. Lulusan SMK yang menganggur mencapai 8,6 persen, diikuti lulusan Diploma 6,8 persen, lulusan SMA 6,7 persen, dan lulusan universitas 6,2 persen. Dimana rentang usia jenjang SMA/SMK - Universitas merupakan usia produktif. Hal ini merupakan fenomena bonus demografi yang nampak dari banyaknya pengangguran dari usia produktif. Bonus demografi sendiri merupakan situasi banyaknya penduduk usia produktif lebih tinggi dari pada usia muda dan lansia. Usia produktif yang siap kerja tentunya akan memberikan kontribusi yang besar dari segi kebutuhan SDM di dunia kerja. Namun, sebaliknya bila usia produktif yang tersedia banyak dan tidak siap kerja, maka akan berdampak pada tingginya ketidakterserapan di dunia kerja. Menurut Sutyastie dalam seminarnya pada tahun 2018 Bonus Demografi akan menjadi keuntungan bila pemerintah siap dan mampu menyiapkan SDM di usia produktif, namun akan menjadi permasalahan bila pemerintah tidak menyiapkan lapangan kerja dan kualitas SDM sehingga akan terjadi penggangguran yang besar dan menjadi beban negara.


 (koran-jakarta.com)

Adanya Revitalisasi Pendidikan Berhasil atau Tidak?

Mengacu pada isi penjelasan pasal 15 Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 di atas, pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu. Namun sampai saat ini tujuan tersebut belum tercapai. Hal ini disebabkan karena sistem penyelenggaran pendidikan tidak sesuai dan sejalan dengan definisi peserta didik yang dijelaskan dalam pasal 15 Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003. Kurang maksimalnya pencapaian tujuan pendidikan merupakan akibat dari sistem pendidikan yang tidak memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan potensi, bakat dan minatnya. Akibatnya masih banyak lulusan SMK yang tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang keahliannya, dan menyebabkan pengangguran (Hamdan, dkk, 2017)

Pengembangan pendidikan vokasi akan terarah dengan adanya sinergi yang baik antara lembaga pendidikan dan dunia kerja. Link and Match yang dilakukan oleh kedua belah pihak harus benar-benar diimplementasikan dengan baik, tidak hanya sebatas persayaratan tertulis. Tidak sedikit dunia kerja yang masih kurang berpartisi aktif dalam penerapan penyelenggaran link and match. Bila hasil link and match dapat berjalan dan terimplementasi dengan baik, maka program revitalisasi SDM akan berjalan dengan baik dan dapat dikatakan berhasil.

Mendikbud RI Nadiem Anwar Makarim mencanangkan program revitalisasi yang terkait dengan SDM pada tahun 2020. Revitalisasi ini memang diperlukan dengan upaya agar SDM dari jenjang SMK selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Menciptakan lulusan SMK yang unggul, siap kerja, sesuai dengan kebutuhan dunia kerja menjadi harapan agar fenomena bonus demografi dapat menjadi keuntungan bagi pemerintah dan mengurangi beban pengangguran.

Pendidikan vokasi di Indonesia khususnya jenjang SMK, dilihat dari tingkat pendidikan masih tertinggi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Dari evaluasi tersebut Mendikbud menilai tingkat pengangguran SMK terbesut dikarenakan kurikulum pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, arah pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia difokuskan pada link and match antara kurikulum pendidikan dengan dunia kerja. Hal tersebut diharapkan adanya sinergi antara kebutuhan dunia kerja sebenarnya dunia kerja dengan sumber daya lulusan yang diberikan telah dibekali dengan kurikulum yang sama dengan dunia kerja.

Revitalisasi yang dicanangkan oleh pemerintah merupakan upaya dari pemerintah untuk menjawab permasalahan tingginya tingkat pengangguran dari lulusan SMK. Fokus pertama dalam revitalisasi yaitu dari segi SDM. Dimana SDM yang dimaksud tidak hanya dari lulusan, namun juga dari tenaga pengajar beserta kurikulum yang diberikan. Dari artikel yang ditulis oleh Kemenkopmk 05 Maret 2022, bahwa sebagai upaya untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dalam menyongsong bonus demografi di era digital, kelompok usia produktif harus dibekali dengan keterampilan yang mampu mengembangkan potensi diri, baik sebagai pegawai maupun pengusaha. Peningkatan SDM jenjang SMK akan dapat dilaksanakan dengan mengimplementasikan hasil link and match yang telah dilakukan dengan dunia kerja. Keberhasilan program revitalisasi ini akan berhasil bila link and match yang dilakukan benar-benar terimplementasikan dengan baik, tidak hanya sebagai syarat tertulis yang tidak ada dukungan apapun.

Implementasi Link And Match sebagai penunjang keberhasilan Revitalisasi Pendidikan




Gambar. Kegiatan Penyelarasan dengan Dunia Kerja (Dokumentasi Pribadi, 2021)

Penguatan kerjasama dengan DUDIKA lewat program link and match sudah digalakkan sejak 2020 dalam bantuan SMK pusat keunggulan. Dalam bantuan pusat keunggulan pula sarana prasarana dimaksimalkan. Sehingga peralatan yang dimiliki SMK sudah sesuai dengan standart industri. Penyelarasan kurikulum juga menjadi hal dasar yang harus dilakukan SMK dengan DUDIKA, sehingga apa yang diberikan ke peserta didik adalah apa yang diinginkan oleh DUDIKA. Magang guru dan siswa, guru tamu juga tak luput menjadi perhatian untuk meningkatkann SDM di jenjang SMK.

Seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Nadiem A. Makariem dalam artikel yang ditulis oleh Bernadetta F dalam halaman Gatra.com tahun 2020 bahwa fokus untuk SMK yaitu mencetak berbagai SMK yang dapat menjadi training of trainers. Benar sekali bila fokus revitalisasi ditujukan pada peningkatan SDM terlebih dahulu. Dengan peningkatan SDM maka lembaga pendidikan akan melakukan link and match dengan dunia kerja, memenuhi kebutuhan lulusan SMK sesuai dengan dunia kerja dan mencapai keberhasilan dari program revitalisasi itu sendiri. Program akan berhasil bila kedua belah pihak antara lembaga pendidikan dan dunia kerja bersinergi dengan baik dan mengimplementasikan hasil penyelarasan dengan saling mendukung.



Gambar. Kegiatan Outing Class dengan Dunia Kerja - Pemanfaatan Fasilitas Bersama
( Dokumentasi Pribadi - 2022)


Fenomema peserta didik yang berakhir dengan statement "Pokok Kerja" yang didasari oleh lapangan kerja yang tidak tersedia atau terbatas sebenarnya dapat diminimalisir dengan pengelompokkan bimbingan karir dan passion peserta didik sejak awal. Dewasa ini pemerintah mendukung adanya program BMW. 

Dalam artikel suaramerdeka.com 24 Mei 2021, menjelaskan bahwa Dirjen Vokasi Bpk Wikan Sakarinto mengatakan lulusan peserta didik vokasi disiapkan menjadi “BMW” yakni bekerja, melanjutkan pendidikan, dan wirausaha. Untuk itu selain ijazah, lulusan pendidikan vokasi dibekali dengan sertifikasi kompetensi dengan statement “Saya kompeten adalah ‘aku bisa ini, bukan aku sudah belajar ini'. 

Selain hard skills, kompeten juga mencakup soft skills dan karakter. Maka, dengan hal tersebut peserta didik yang tidak bekerja linierpun terarah dan tidak menjadi sebuah statement "Pokok e kerja" tapi mereka bekerja sesuai dengan passionnya.


Link video penjelasan pengenalan jurusan dari dunia kerja.

“Mengapa Kurikulum Perlu berubah”

  Kurikulum Berubah, Apakah merupakan solusi? Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pembelajaran, Hamid Muhammad mengatakan, ...