Implementasi Transferable Skill di LN dengan Indonesia
Transferable skills dapat didefinisikan sebagai keterampilan-keterampilan yang berguna dalam berbagai jenis pekerjaan dan konteks kehidupan (UNESCO, 2012, hal. 14; Bridges, 1993; Bennett, 2002; Richard, 2012). Transferable skills telah diintegrasikan menjadi salah satu unsur penting dalam kurikulum pendidikan vokasidi Negara Inggris, baik dalam pendidikan formal maupun non-formal.
1. Inggris: Functional Skills
Functional skills yang dimaksud meliputi:
- Penerapan angka (Maths)
- Komunikasi (English)
- Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT)
- Mengembangkan pembelajaran dan performa secara mandiri (improving own learning and performance atau IOLP)
- Pemecahan masalah
- Bekerja sama
2. Skotlandia: Core skills
Core skills ini meliputi(SQA, 2013)
q Keterampilan memecahkan masalah meliputi berpikir kritis dan kreatif, menganalisis situasi dan mengambil tindakan, merencanakan dan mengatur hal-hal yang dibutuhkan, merefleksikan pencapaian dan mengambil kesimpulan
q Keterampilan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan
q Keterampilan numerasi meliputi mengolah, menginterpretasi dan mengomunikasikan informasi
q Keterampilan TIK, yaitu keterampilan mendasar untuk mencari dan menganalisis informasi
q Keterampilan bekerjasama dengan orang lain merupakan keterampilan interpersonal yang dapat membantu peserta didik berelasi dengan orang lain baik dalam pendidikan dan pekerjaan, untuk mencapai tujuan bersama.
3. Wales:
Essential Skills Wales (ESW)
Istilah ini diperbaruhi pemerintah Wales pada 2015. Essential Skills Wales (ESW) meliputi :
- keterampilan
berkomunikasi (Essential Communication Skills),
- keterampilan penerapan
angka (Essential Application of Number Skills),
- keterampilan literasi digital (Essential Digital Literacy Skills),
- keterampilan bekerja (Essential Employability Skills atau EES)
4.
Irlandia Utara: Essential skills
Essential skills diperkenalkan oleh Department for Employment and Learning (DEL) pada bulan April 2002 dalam Essential Skills for Living Strategy (NI Statistics & Research agency , 2016).
Keterampilan yang dikategorikan essential skill meliputi :
q Literasi
q Numerasi
q TIK
Di
Irlandia Utara pencapaian kualifikasi essential skills tidak hanya dinilai
berdasarkan penguasaan keterampilan tertentu tetapi juga menggunakan standar
usia sebagai berikut:
- Entry level 1 (usia 5-7 tahun)
- Entry level 2 (usia 7-9 tahun)
- Entry level 3 (usia 9-11 tahun)
- Level 1 (GCSE grades D-G)
- Level 2 (GCSE grades A-C)
STRATEGI
pengembangan transferable skills di Indonesia
v Dalam
menerapkan trasferable skills di Indonesia diperlukan partisipasi dari
pemerintah, pemangku kepentingan, pemberi kerja dan pekerja untuk
mengidentifikasi transferable skills yang perlu untuk dikembangkan dalam lingkup konsep,
politik dan praktik (UNESCO, 2014). Pemerintah dan perusahaan berkolaborasi
mendanai dan mengelola pendidikan vokasi agar dapat meningkatkan relevansi
konten pendidikan dengan pekerjaan di masa yang akan datang.
v Perkembangan
trasverable skills dapat membantu pekerja dengan keterampilan dan dapat
memudahkan pekerja untuk bekerja secara efektif dalam berbagai situasi. Transferable
skills, juga dapat membantu mobilitas jenjang karir pekerja baik di dalam
maupun di luar perusahaan. Maka dari itu, pemberi kerja maupun institusi
pendidikan harus mengutamakan pengembangan transferable skills.
v Pengintegrasian
transferable skills dalam kurikulum Pendidikan vokasi berkaitan erat dengan
kualitas Pendidikan di suatu negara , khususnya kualitas guru. Guru
memiliki peran penting dalam menerapkan kurikulum program magang (UNESCO,
2012). Program revitalisasi pendidikan
vokasi di Indonesia sebagai sarana dalam pengintegrasian transferable skills.
Bagaimana Transferable Skill Terintegrasi dengan Revitalisasi SMK
Mengutip dari bapak Mendikbud RI Nadiem Anwar Makarim bahwa beliau mencanangkan program revitalisasi yang terkait dengan SDM pada tahun 2020. Revitalisasi ini memang diperlukan dengan upaya agar SDM dari jenjang SMK selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Menciptakan lulusan SMK yang unggul, siap kerja, sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Untuk mencapai SMK yang unggul dan siap kerja maka intregasi dari transferable skills perlu diterapkan. Dengan metode tersebut, pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan, sikap dan pengetahuan tidak hanya sebatas penuntasan dari kurikulum yang harus dicapai. Namun, peserta didik mampu menerapkan keterampilan, sikap dan pengetahuannya untuk menyelesaikan permasalahan nyata di dunia kerja. Keterlibatan peserta didik dalam menyelesaikan masalah dapat dimulai saat peserta didik melakukan kegiatan praktik kerja lapangan. Pembelajaran yang melibatkan dunia kerja memberikan stimulus peserta didik agar mampu memiliki gambaran dunia kerjanya dan masalah yang rentan akan dihadapinya di masa mendatang.
Langkah-langkah yang sudah atau akan dilaksanakan dari
program revitalisasi pendidikan vokasi dalam pengintegrasian transferable
skills :
1. Melatih peserta didik dalam keterampilan berkomunikasi
2. Melatih peserta didik bekerja sama dengan orang lain
3. Melatih peserta didik kuat dari segi fisik dan mental
4. Memberi waktu tambahan magang untuk peserta didik di dunia
usaha dan industri
5. Membekali peserta didik dengan kemamampuan IT
Referensi
ACE. (2015,
February). Transferable
Skills: Guidance notes. Retrieved September 3, 2017, from
https://acecerts.co.uk/web/wp-content/uploads/2013/06/ACE-Transferable-Skills-Feb-2015- V4-Starts-up-to-
5th-April-2015.pdf
Department for
Education . (2016). Post-16 Skills
Plan. London: OGL.
Education and
Training Foundation. (2016, December). Annual Review 2015/16. Retrieved April
16, 2017, from
http://www.et-foundation.co.uk/wp-content/uploads/2014/03/AR-amended- smaller-file.pdf
Kemendikbud.
(2016). Membangun
Pendidikan Menengah Kejuruan Indonesia: Sebuah Peta Jalan Menuju 2030. Jakarta:
Kemendikbud.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar