Reformasi Sistem Pendidikan dan Pelatihan Vokasi (TVET) untuk Pekerjaan Masa Depan!!!
Apa yang harus dilakukan Indonesia untuk mempersiapkan generasi berikutnya untuk pekerjaan di masa depan? Bagaimana sistem pendidikan dan pelatihan teknik dan vokasi Indonesia dapat memenuhi kebutuhan industri dan memastikan siswanya terlibat aktif dan belajar secara efektif?
Mempersiapkan generasi berikutnya untuk lapangan kerja dimasa depan membutuhkan perencanaan yang cerdas. Pendidikan dan pelatihan teknis dan vokasi (TVET) adalah investasi penting untuk meningkatkanketerampilan yang dibutuhkan untuk angkatan kerja yang baru.
Untuk mengembangkan sistem TVET yang dapat memenuhi tuntutan pasar tenaga kerja masa depan, dua persoalan utama perlu dijawab.
Pertama, mengintegrasi sistem TVET nasional untuk meningkatkan keterpaduanantara pemerintah, lembaga pendidikan dan pelatihan, dan industri. Kedua, meningkatkan kualitas dan fleksibilitas pengajaran dan pembelajaran di lembaga TVET dan memastikan bahwa para siswa terlibat aktif dan belajar secara efektif.
PENGEMBANGAN SMK MODEL UNTUK MASA DEPAN...???
Praktik penyelenggaraan SMK di Indonesia saat ini menunjukkan kelemahan-kelemahan
sebagai berikut: menyelenggarakan fungsi tunggal, yaitu menyiapkan siswa untuk bekerja, untuk
menjadi karyawan, dan kurang menyiapkan untuk menjadi wirausahawan, kurang cepat tanggap
terhadap tuntutan-tuntutan pembangunan ekonomi, lemah keselarasannya dengan dunia kerja, dan
tidak ada jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Tekanan-tekanan dan faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap SMK sangat banyak, tetapi beberapa hal berikut harus segera ditanggapi, yaitu
rencana pembangunan jangka panjang nasional, cetak biru insan Indonesia cerdas dan kompetitif
2025, master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia, keanekaragaman
kebutuhan masyarakat, kemajuan teknologi, dan tuntutan globalisasi. Agar SMK dapat memainkan
peran lebih penting dalam pembangunan ekonomi, SMK harus memperluas fungsinya dari fungsi
tunggal menjadi SMK Model yang menyelenggarakan fungsi majemuk yang selaras dengan
kemajemukan kebutuhan masyarakat. Transisi dari SMK fungsi tunggal menjadi SMK Model (fungsi
majemuk) memerlukan restrukturisasi dalam kebijakan, perencanaan, penganggaran, kelembagaan,
dan sumber daya.
KONDISI SMK SAAT INI
Secara umum, kondisi SMK saat ini menunjukkan hal-hal sebagai berikut: (1) hanya
menyelenggarakan fungsi tunggal yaitu menyiapkan siswanya untuk bekerja pada bidang
tertentu sebagai karyawan; (2) lemah dalam
menyiapkan siswanya untuk menjadi wirausahawan; (3) lambat daya tanggapnya terhadap
dinamika tuntutan pembangunan ekonomi; (4)
belum optimal keselarasannya dengan dunia
kerja; dan (5) belum ada kepastian jaminan terhadap siswanya untuk memperoleh pekerjaan
yang layak. Lima kondisi SMK tersebut diuraikan seperlunya sebagai berikut:
TUNTUTAN EKSTERNAL
SMK diharapkan memiliki kemampuan
dan kesanggupan untuk menanggapi tuntutantuntutan eksternal berikut: (1) rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN); (2)
cetak biru pembangunan pendidikan nasional;
(3) master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia/MP3EI; (4) keanekaragaman kebutuhan masyarakat, khususnya dunia kerja; (5) kemajuan teknologi; dan
(6) tuntutan globalisasi.
SMK MODEL: TEROBOSAN BARU
SMK Model adalah SMK yang dikembangkan dari SMK yang menyelenggarakan
fungsi tunggal yaitu menyiapkan peserta didik
untuk memasuki lapangan kerja pada bidang
tertentu menjadi SMK yang menyelenggarakan
multi-fungsi (fungsi majemuk) atas dasar prinsip-prinsip kemanfaatan, keterpaduan program,
integrasi sumber daya (manusia, uang, peralatan, bahan, dan sebagainya), resource sharing,
dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara maksimal. SMK Model dituntut untuk menjadi sekolah cerdas (kreatif, inovatif, inisiatif, cepat, tepat, dan cekat) dalam
mengembangkan program-programnya, dan
memiliki keunggulan-keunggulan dibanding dengan SMK-SMK lain dalam inputnya (kurikulum, guru, fasilitas, dan sebagainya), prosesnya (pembelajaran, manajemen, kepemimpinan,
dan sebagainya), dan outputnya (mutu lulusan
dan mutu produk-produk lain yang dihasilkan).
Satu hal mendasar yang harus dilakukan oleh
SMK Model adalah membangun kerjasama,
kolaborasi, dan sinergi dengan dunia kerja, mulai dari perumusan kompetensi, penyusunan bahan ajar, pelaksanaan kegiatan, hingga sampai
evaluasi dan sertifikasi kompetensi.
FUNGSI MAJEMUK SMK MODEL
Agar pendidikan kejuruan tetap selaras
dengan kebutuhan masyarakat, King & Palmer
(2010) berpendapat bahwa abad 21 memerlukan
reformasi fungsi pendidikan kejuruan. Untuk
Indonesia, pendapat mereka bukanlah hal baru
karena pada tahun1998 Direktorat Pembinaan
SMK telah melakukan reformasi dengan konsepnya yang disebut Skills Toward 2020 yang
intinya bahwa SMK harus bebasis demand driven (berbasis kebutuhan dunia kerja dengan segala variasi jenis-jenisnya). Skills Toward 2020
juga sangat selaras dengan saran UNESCO
(1984) bahwa pendidikan kejuruan agar menata
ulang organisasi dan koordinasinya dengan
dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan
SMK Model agar menekankan keselarasannya
dengan kebutuhan masyarakat.
Sumber : https://youtu.be/hxOKiej-gf8
SMK Model dirancang untuk menyelenggarakan fungsi majemuk berdasarkan kemajemukan kebutuhan masyarakat, khususnya dunia
kerja. Oleh karena itu, keselarasannya dengan
kebutuhan masyarakat merupakan imperatif,
baik dalam dimensi kuantitas, kualitas, lokasi,
maupun waktu. Transisi menuju SMK Model
memerlukan penataan ulang kebijakan, perencanaan, penganggaran, kelembagaan, dan sumber daya yang diperlukan untuk menyelenggarakan SMK Model.
---TERIMA KASIH---
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar